Otomotif | Otomotif - Automotive | Mobil - Sepeda Motor

Titles Titles & descriptions

  

Modification guidance - Upgrade Kawasaki athlete?


Sponsored Links
 Print this page 

Author: Penulis : Banar

Gambar

 

 

 

 

Enggak sedikit pembesut Kawasaki Athlete yang merasa tunggangannya kurang bertenaga. Pasalnya meski sudah mengusung mesin berkapasitas 125 cc, putaran bawahnya masih terasa kurang nendang dan responsif.

 

 

Nah bagi Anda pembesut motor ini, jangan berkecil hati. Karena sudah banyak beredar part racing buat meningkatkan performa tunggangan sampeyan. Kalau hanya upgrade tenaga mesin untuk harian saja sih enggak bikin kantong jebol, harganya juga terjangkau.


Gambar 1

Gambar 1

 

 

 

 

 

 

Biar ada gambaran jelas, akan diuji coba langsung part PnP (Plug and Play) yang tinggal pasang dan enggak harus mondok di bengkel. Peranti yang dijajal adalah knalpot free flow merek Ahau seharga Rp 350 ribu dan part pendongkrak pengapian CDI BRT Hyperband berbanderol Rp 400 ribu (gbr.1).

 

 

Yuk, lihat langsung hasil pengetesannya pakai dyno test BRT di Cibinong, Jabar. Pertama sebelum tunggangan dipasang part racing, power ditunjukkan pada angka 8,57 dk/7.800 rpm. Torsinya 8,41 Nm/6.300 rpm (lihat tabel).

 

Setelah CDI bawaan besutan diganti CDI BRT Hyperband, diperoleh power 8,70 dk/7.900 rpm dan torsi maksimalnya 8,34 Nm/6.100 rpm. Selanjutnya tunggangan hanya diganti dengan knalpot Ahau, power maksimalnya 8,77 dk/7.950 rpm, sedangkan torsinya 8,62 Nm/5.000 rpm.

 

 


Gambar 2a

Gambar 2

 

 

 

 

 

 

Nah langkah terakhir yakni knalpot Ahau dan CDI BRT dipasang secara bersamaan. Dari hasil pengetesan diperoleh hasil; power 9,23 dk/8.200 rpm dan torsi 9,03 Nm/5.100 rpm (gbr.2a). Ini berarti ada kenaikan power sebesar 0,66 dk dan dipastikan akselerasi bawah akan bertambah.

 

 


Gambar.2b

Gambar 3

 

 

 

 

Berdasar pengetesan di atas, meski power maupun torsi sudah naik, namun masih bisa dimaksimalkan lagi. Sebelumnya lihat grafik AFR (air fuel ratio) (gbr.2b), yang berfungsi menunjukkan campuran bensin dan udara di ruang bakar sudah maksimal apa belum.

 

"Kalau ngejar power, perbandingannya 13 : 1, yakni molekul udara 13 dibanding 1 molekul BBM. Bila angka di atas 13, berarti terlalu kering (kurang bensin) dan sebaliknya. Tapi kalau lebih mementingkan emisi, perbandingannya 14 : 1," urai Tomy Huang, penggawang BRT.

 

Dari pemasangan CDI BRT bersamaan knalpot Ahau tersebut, diperoleh AFR 13,71 yang sebelumnya 13,73. Menandakan campurannya terlalu kering.

 

Agar hasilnya lebih maksimal lagi, lebih baik dilakukan setting ulang karburator. "Bila setting karburator belum menemukan hasil yang pas, bisa dilakukan penggantian spuyer dengan ukuran yang lebih besar," anjur Tomy.

 

 

 

 

Tabel Hasil Tes

Alat

 

Power (dk/rpm)

 

Torsi (Nm/rpm)

 

Standar

 

8,57 / 7.800

 

8,41 / 6.300

 

BRT

 

8,70 / 7.900

 

8,34 / 6.100

 

Knalpot Ahau

 

8,77 / 7,950

 

8,62 / 5.000

 

BRT + Ahau

 

9,23 / 8.200

 

9, 03 / 5.100

 

 

 

 

 

Sumber :Penulis : Banar - otomotifnet.com



Sponsored Links

Standar Ban Indonesia Sangat Tinggi di Mata Produsen Eropa
Untuk meningkatkan kinerja ekspor ke Eropa, Pemerintah Indonesia berencana meratifikasi empat produk...

Busi
komponen atau bagian yang terlibat dalam sistem pengapian ialah busi, koil, distributor, platina, da...

Modifikasi Honda Vario Bore - Up - Pilihan karburator untuk Vario Bore - Up, sesuaikan mesin dan kebutuhan
Bore-up Honda Vario? Agar tarikan tetap mumpuni, otomatis karburator aslinya yang tipe vakum ukuran ...


Copyright 2008-2015 Otomotif.web.id. All rights reserved. Privacy policy
Artikel dan komentar merupakan kontribusi tulisan dari sesama user, pergunakan dengan bijak
Klik tombol "Submit article" untuk memasukan artikel baru